Langkah Prancis di Piala Dunia 2026 terus berlanjut ke babak perempat final melawan Maroko. Siapa pun pemenangnya nanti, nama Désiré Doué telah terukir dalam ingatan publik. Aksi individunya pada laga babak 16 besar melawan Paraguay di Philadelphia menjadi pembeda. Lewat dribel kreatif dan kelincahan di ruang sempit, bintang baru PSG itu berhasil meloloskan Prancis dari situasi sulit. Sejak kecil, mantan pemain Rennes ini memang dipersiapkan untuk laga-laga krusial seperti ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Perjalanan karir sang pemain tampak berjalan sangat mulus. Dia melakoni debut profesional pada usia 17 tahun, berlaga di Olimpiade pada usia 19 tahun, dan menembus tim nasional senior enam bulan setelahnya. Namun, jalur tersebut tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Cedera punggung, betis, dan paha sempat memperlambat ritmenya. Ada juga satu episode kelam yang jarang diketahui publik pada musim panas 2023. Menurut Landry Chauvin, mantan pelatihnya di Rennes, insiden itu tidak akan mengubah takdir sang pemain karena dia memang sudah diprogram untuk sukses.
Pada musim panas 2023, talenta Désiré Doué mulai meledak. Dia menyelesaikan musim pertamanya bersama Rennes dengan catatan 34 pertandingan dan empat gol. Publik mulai membandingkannya dengan Ousmane Dembélé. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) sudah memantau gelandang ofensif ini sejak lama. Pada Maret 2023, dia dipromosikan ke tim kelompok umur U19 untuk kualifikasi Euro. Tiga bulan kemudian, pelatih Bernard Diomède memasukkan namanya ke dalam skuad Turnamen Toulon. Namun, dia justru tidak pernah meledak di turnamen tersebut karena sebuah absensi yang tidak bisa dijelaskan.
Berdasarkan keterangan seorang staf FFF, pihak manajemen tim saat itu sudah mencoba menghubungi Florian Maurice selaku direktur olahraga Rennes dan perwakilan sang pemain. Namun, mereka tidak kunjung mendapatkan jawaban. Hari-hari berlalu tanpa kehadiran Désiré Doué maupun kejelasan dari klubnya. Prancis yang saat itu diperkuat Warren Zaïre-Emery dan Mathys Tel akhirnya hanya finis di peringkat keempat. Absensi ini memicu kemarahan internal di dalam tubuh federasi.
Beberapa pihak di FFF sempat ingin memberikan sanksi tegas kepada Désiré Doué, mirip dengan kasus Theo Hernandez yang membolos dari panggilan tim nasional beberapa tahun sebelumnya. Perdebatan internal pun terjadi secara intens antara kubu yang menginginkan sanksi keras dan kubu yang memilih jalur dialog. Kelompok yang membela sang pemain menilai Désiré Doué adalah anak yang sopan dan taat aturan, sehingga konfrontasi langsung dinilai tidak bijak mengingat dia baru saja menjalani musim yang padat dan harus fokus menghadapi ujian kelulusan sekolah.
Pertimbangan lain bagi FFF adalah risiko kehilangan talenta besar menjelang Olimpiade Paris, terutama karena tim nasional Pantai Gading juga sudah lama mengincarnya. Akhirnya, keputusan sanksi dibatalkan dan diganti dengan sesi klarifikasi. Pada September, sang penyerang diturunkan ke tim U19 untuk laga persahabatan demi bertemu langsung dengan Bernard Diomède. Menurut Bernard Diomède yang merupakan juara dunia 1998, mereka telah berbicara secara terbuka mengenai apa yang terjadi dan sepakat untuk melupakan masalah tersebut.
Dalam dialog tersebut, Désiré Doué menjelaskan bahwa pihak Rennes memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk bergabung atau tidak, sehingga terjadi kesalahpahaman komunikasi. Kini, tiga tahun telah berlalu dan insiden tersebut tidak menyisakan keraguan dalam komitmennya bersama Les Bleus. Pihak keluarga menyatakan bahwa masalah tersebut sudah lama selesai dan tidak perlu dibahas lagi. Désiré Doué kini fokus menatap laga di Boston, meninggalkan memori buruk di Toulon jauh di belakang.